Rabu, 28 Maret 2012

CURHAT

Hidup ini ternyata tidak semudah dahulu. Bahkan mungkin sekarang, aku tidak lagi dapat disebut masih hidup. Kehidupanku berubah 180 derajat sejak kedatangan para pemburu kaumku. Kehidupanku yang dahulu penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan direnggut oleh ketamakan orang-orang di kota. Terus-menerus aku hidup dalam ketakutan. Ketakutan akan kebinasaan yang telah dialami teman-temanku di kota.
Hari ini, aku kembali mendengar nasib teman-temanku yang di kota. Apa yang menjadi ketakutanku dan teman-temanku akhirnya terjadi pada teman-temanku yang berada di kota, mereka mati. Walaupun sudah hampir setiap hari aku mendengar berita ini, namun rasanya hati ini sedih setiap kali aku mendengar dan membayangkannya. Kaumku sudah sedikit di dunia ini, tetapi mengapa masih saja orang-orang tidak tahu balas budi itu memburuku kami. Ketakutan, kegelisahan dan kecemasan akan kematian terus menghantuiku dan teman-temanku yang tersisa akhir-akhir ini, ketika hampir semua orang tidak lagi peduli pada kami.
Aku ingin memberontak. Aku ingin menggerakan teman-temanku untuk melawan orang-orang berjas itu. Tapi aku sadar, pemberontakan yang akan aku lakukan bukan hanya merugikan para pembunuh kaum kami, tetapi juga akan merugikan orang-orang yang tidak bersalah, yang bahkan peduli kepada kami. Lagipula, para pembunuh itu sudah mempunyai akses yang mudah untuk melancarkan pembunuhan massal kepada kami. Ya, hanya dengan selembar kertas berisi jutaan atau bahkan miliaran rupiah, mereka sudah mendapat izin untuk melakukan genosida. Mereka sudah tidak berbeda dengan Hitler dan Musolini pada waktu itu, yang dengan kejamnya membunuh semua yang mereka benci, hanya untuk kepentingan mereka sendiri.
Dengan mata mereka yang langsung hijau ketika melihat cek senilai miliyaran rupiah, aku dan teman-temanku menjadi korban. Korban kesewenang-wenangan mereka. Apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan nyawaku dan hidup teman-temanku? Cepat atau lambat, mereka akan sampai di tempat ini dan menemukan persembunyianku dan teman-temanku. Bukan hal yang luar biasa apabila mereka langsung mengambil peralatan membunuh mereka dan dengan cepat memusnahkanku. Sekali lagi, apa yang harus aku lakukan?
“Ayah, aku sudah bisa menanam satu pohon kecil ini, yah…” seru seorang anak perempuan yang belum genap berusia 10 tahun kepada ayahnya.
“Bagus, nak. Ayo, sekarang bantu ayah untuk menanam yang lain.” ajak ayahnya.
Hanya kepada orang-orang seperti ayah dan anak perempuannya itu aku berharap. Berharap untuk terus hidup. Hidup penuh kedamaian. Karna hanya merekalah yang peduli denganku. Walaupun hanya satu atau dua orang, aku tidak akan pernah berhenti berharap.
Andai aku bisa berbicara…

(silahkan pembaca berefleksi sendiri ya,,,)

Sabtu, 10 Maret 2012

Bahagianya Bersikap Terbuka

Apapun itu status hubungannya, manusia dituntut untuk terbuka. Memang tidak mudah untuk membuka topeng-topeng yang kita punyai, meruntuhkan tembok-tembok pembelaan diri yang sudah kita bangun seumur hidup kita. Tetapi hal itu bukanlah tidak mungkin. Keinginan kita untuk menjadi diri sendiri dalam proses menjadi manusia yang dewasa terus bergejolak di dalam hati kita. Saya percaya itu.

Di dalam hati kecil kita, sering kali ingin menjadi diri sendiri, namun hal itu juga kerap dihadapkan pada realita diri yang masih belum sempurna. Masih mempunyai ketergantungan tinggi pada gengsi atau yang lebih dikenal "jaim", jaga image.

Dalam refleksi pribadi saya, awalnya memang susah untuk membuka diri kita kepada orang lain, membuka apapun, terutama kebusukan-kebusukan kita. Tapi dengan terbuka, saya dapat menjadi diri saya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. Satu pengalaman pribadi. Saya sangat terbuka dengan pacar saya, apapun itu, dari hal sederhana apapun. Memang, sikap saya yang terbuka, membuat "Nanda" cemburulah, kagetlah, atau reaksi-reaksi lainnya. Saya memang siap dengan segala resiko apapun akibat sikap terbuka saya. Tetapi setelah kaget, pacar saya hanya mengucapkan "TERIMA KASIH" dan tersenyum dengan senyum yang paling manis yang pernah saya temui. Perasaan saya saat itu sangatlah bahagia. Selain saya dapat menjadi diri saya sendiri apa adanya, saya juga merasa bahagia karena tanggapan yang positif dari orang yang saya sayangi.

Sikap terbuka memang bukanlah hal mudah. Namun dengan terbuka, kita tidak akan menyesal dan terus dikejar-kejar oleh kebohongan-kebohongan diri kita.
Indonesia akan menjadi negara maju jika orang-orang Indonesia terbuka dirinya bagi orang lain. Tidak ada lagi kata munafik. Mungkin, tidak ada lagi kata penderitaan.
Mari kita menyadari diri kita, yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik tetapi lebih menjadi orang munafik.

Berikanlah kepada siapapun, diri asli kita. INILAH DIRIKU YANG SESUNGGUHNYA...