Refleksiku
Senin, 29 Oktober 2012
Buah Kepercayaan
Pacaran jarak jauh bukanlah hal yang mudah baginya dan bagiku... Jujur saja, kecurigaan pasti selalu muncul dalam hatiku. Dia cantik, baik, punya senyum yang manis... Pasti tidak ada laki-laki yang tidak menyukai dia. Memang, aku merupakan laki-laki yang beruntung karena dapat mengambil hatinya. Tapi tetap saja perasaan curiga sulit untuk dihilangkan.
Aku mempunyai pendapat, bahwa seorang wanita juga membutuhkan perhatian langsung dari orang lain. Aku takutnya, dia mendapatkan perhatian laki-laki lain yang lebih di "sana". Ketakutanku bukanlah tidak mempunyai alasan. Sisi feminim seorang wanita sangatlah besar dan sisi feminim itu membutuhkan perhatian. Aku memang selalu berusaha untuk memberikan perhatian paling besarku kepadanya, tapi aku belum mampu memberikan perhatianku secara langsung kepadanya semaksimal mungkin. Itulah salah satu kegelisahan hatiku.
Aku berefleksi, bahwa KEPERCAYAAN menjadi kunci utamaku dalam menjalin hubungan dengannya. Aku percaya bahwa buah dari kepercayaan sangatlah manis. Aku percaya bahwa Tea adalah wanita yang setia. Dia mau menungguku ketika aku sudah janji akan memberikan waktuku suatu saat. Dia mau menungguku ketika aku pulang. Dia mau mencintaiku dengan segenap hatinya. Aku percaya, dan selama aku percaya, aku akan memperoleh kebahagiaan bersamanya.
Terima kasih sayang... I Love U Tea...
Rabu, 25 April 2012
Kriteria Anggota DPR RI Masa Depan
Permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia sekarang ini banyak malibatkan oknum-oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seperti korupsi, suap, penyalahgunaan wewenang dan lain sebagainya. Bagaimana nasib rakyat jika DPR, yang katanya wakil rakyat, tidak memikirkan kehidupan masyarakat luas bahkan cenderung menciptakan kesengsaraan dan kepedihan dalam masyarakat Indonesia? Bagaimana negara ini dapat dikatakan maju jika rakyatnya harus menderita akibat perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan oleh “golongan-golongan atas”? Oleh karena itu, dibutuhkan seseorang atau lebih anggota DPR yang berkualitas dan pantas untuk menjadi seorang wakil rakyat masa depan dengan kriteria sebagai berikut:
1. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah MANUSIA dengan segala sisi kemanusiaannya. Seekor bangaupun mau mati mengorbankan dirinya demi kehidupan anak-anaknya ketika dating musim kemarau yang menyebabkan kekeringan, apalagi manusia? Apakah manusia mau kalah dengan seekor bangau yang adalah hewan? Maka manusia yang manusiawi haruslah lebih daripada hewan yang mau mengorbankan dirinya sendiri demi hidup dan kepentingan orang banyak.
2. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah MENCINTAI MANUSIA SELAYAKNYA IA MENCINTAI DIRINYA SENDIRI. Lakukanlah apa yang kamu ingin orang lain lakukan bagi dirimu. Cinta harus langsung dibuktikan dengan kerja tangan dalam bentuk pelayanan dan pengabdian yang tulus kepada masyarakat, bukan pelayanan kepada uang dan harta kekayaan.
3. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah seorang yang MAU BERJALAN KAKI. Berjalan dalam arti ini adalah mau turun ke jalan bersama-sama rakyat untuk membangun negara ini, tidak hanya duduk-duduk di balik meja. Berjalan adalah pekerjaan yang melelahkan, tetapi itu bukan hambatan para mahasiswa untuk rela berjalan jauh dalam penyampaian aspirasinya. Maka, sudah sepantasnya anggota DPR itu mau berjalan, mau lelah dan berkeringat untuk kebenaran, keadilan dan kepentingan masyarakat luas.
4. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah mempunyai TANGAN DAN KAKI SEHAT. Ia menggunakan tangannya untuk membantu siapapun yang pantas dan layak untuk dibantu seperti kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD), bukannya untuk mengambil hak yang bukan menjadi haknya. Ia menggunakan kakinya untuk melangkah maju bersama rakyat dalam membangun negara Indonesia, bukan untuk melarikan diri dari banyak permasalahan yang terjadi di negeri ini, juga bukan untuk melarikan uang rakyat.
5. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah mempunyai MATA DAN TELINGA SEHAT. Mata yang digunakan untuk melihat ketidakadilan dan penderitaan yang melanda sebagian besar rakyat di negeri ini. Telinga untuk mendengarkan tangis penderitaan dan aspirasi-aspirasi dari rakyat. Tuhan memberikan mata dan telinga untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Ketajaman indera dan kepekaan menjadi sifat yang diharapkan oleh kebanyakan rakyat Indonesia dari sosok seorang anggota DPR.
6. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah ia yang MEMAKAN SESUAP NASI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH. Karena jika ia bersungguh-sungguh dalam makan, maka ia akan menyadari bagaimana hebatnya perjuangan orang lain, khususnya petani yang selama berbulan-bulan di bawah panasnya matahari bekerja dengan penuh keringat demi kehidupan orang banyak. Dunia ini dibutuhkan petani yang mau dengan rela mengurus sawah untuk kebutuhan pokok manusia. Kesadaran itulah yang dibutuhkan oleh seorang anggota DPR untuk menghargai apa yang diperjuangkan oleh rakyat, bukan untuk ditumbangkan lewat perbuatan-perbuatan kotor yang menyengsarakan rakyat.
7. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah ia yang DAPAT MENGGUNAKAN JAM DENGAN BAIK. Ia harus sadar dan mengerti waktu untuk bangun, waktu untuk bekerja, waktu untuk memberikan pelayanan dan pengabdian kepada negara lewat rakyat dan waktu untuk tidur. Banyak orang tidak menggunakan jam dengan sebaik-baiknya, tidur di waktu bekerja dan rapat adalah buktinya. Kriteria ini merupakan salah satu kriteria yang seharusnya dimiliki oleh anggota DPR Indonesia agar ia tahu waktu untuk menyerahkan dirinya demi kepentingan orang lain.
8. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah ia yang PERNAH SEKOLAH selama kurang lebih 9 tahun dengan sungguh-sungguh. Kesungguhannya akan terlihat ketika ia pintar dan tidak membodohi masyarakat dengan kepintarannya. Karena di sekolah ia belajar mengenai banyak hal; perjuangan, rela berkorban, rendah hati dan lain sebagainya. Dibutuhkan sikap rendah hati ketika orang lain ingin memberikan pertolongan. Sikap rendah hati imilah yang lebih dibutuhkan rakyat dalam diri seorang wakil rakyat, bukan kepopuleran atau keterkenalannya di negeri ini.
9. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah TIDAK PANDAI BICARA, tetapi cerdas dalam bekerja. Rakyat sudah lelah dengan janji-janji kosong yang tidak ada gunanya yang diucapkan lewat mulut-mulut manis orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Talk Less Do More, itulah yang dibutuhkan rakyat dalam sosok anggota DPR. Bicara sesedikit mungkin dan langsung melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk rakyat.
10. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah orang yang TIDAK KAYA. Kecenderungan orang yang kaya adalah ingin semakin memperkaya diri dan menumbun harta kekayaannya. Tindakan ini sama sekali tidak mencerminkan sikap pro rakyat. Sebagian besar rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, tetapi mengapa wakilnya kaya? Kekayaan yang banyak bukan sebagai topeng untuk melakukan pelayanan, bahkan penulis yakin, pelayanan yang tulus datangnya dari seorang yang biasa-biasa saja atau malah orang yang miskin akan material. Jadi, kekayaan terkadang dapat membutakan mata orang untuk melihat orang-orang disekitarnya.
11. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah seorang yang TIDAK MEMILIKI PERUT BUNCIT. Perut buncit terkadang dipandang sebagai orang makmur dan sejahtera. Tapi untuk seorang anggota DPR, kemakmuran dan kesejahteraan daatngnya bukan dari makanan enak yang dimakannya setiap hari tetapi dari bersama-sama, bersatu dengan rakyat dalam memberikan pengabdian untuk negara ini. Aku ada karena engkau. Itulah yang harus dipegang oleh seorang anggota DPR untuk membalas budi rakyat yang telah memilihnya.
12. Seorang anggota DPR Indonesia masa depan haruslah MEMAKAI BAJU dengan baik dan benar sehingga ia tidak perlu malu ketika harus bekerja bersama rakyat, ia tidak perlu malu ketika memegang cangkul untuk membajak sawah di lahan kepulauan nusantara ini. Seseorang malu karena ia tidak memakai baju dengan baik dan benar.
Maka, siapapun yang ingin menjadi anggota DPR, haruslah memiliki kriteria-kriteria tersebut, bukan untuk mencari kesenangan, tetapi semata-mata untuk rakyat dan pengabdian diri untuk Negara Indonesia ini. Rakyat pun harus pintar untuk memilih anggota DPR, jangan mau dibodohi dengan uang yang dapat menjerumuskan orang pada penyesalan yang sungguh mendalam. Terima kasih.
Rabu, 28 Maret 2012
CURHAT
Hidup ini ternyata tidak semudah dahulu. Bahkan mungkin sekarang, aku tidak lagi dapat disebut masih hidup. Kehidupanku berubah 180 derajat sejak kedatangan para pemburu kaumku. Kehidupanku yang dahulu penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan direnggut oleh ketamakan orang-orang di kota. Terus-menerus aku hidup dalam ketakutan. Ketakutan akan kebinasaan yang telah dialami teman-temanku di kota.
Hari ini, aku kembali mendengar nasib teman-temanku yang di kota. Apa yang menjadi ketakutanku dan teman-temanku akhirnya terjadi pada teman-temanku yang berada di kota, mereka mati. Walaupun sudah hampir setiap hari aku mendengar berita ini, namun rasanya hati ini sedih setiap kali aku mendengar dan membayangkannya. Kaumku sudah sedikit di dunia ini, tetapi mengapa masih saja orang-orang tidak tahu balas budi itu memburuku kami. Ketakutan, kegelisahan dan kecemasan akan kematian terus menghantuiku dan teman-temanku yang tersisa akhir-akhir ini, ketika hampir semua orang tidak lagi peduli pada kami.
Aku ingin memberontak. Aku ingin menggerakan teman-temanku untuk melawan orang-orang berjas itu. Tapi aku sadar, pemberontakan yang akan aku lakukan bukan hanya merugikan para pembunuh kaum kami, tetapi juga akan merugikan orang-orang yang tidak bersalah, yang bahkan peduli kepada kami. Lagipula, para pembunuh itu sudah mempunyai akses yang mudah untuk melancarkan pembunuhan massal kepada kami. Ya, hanya dengan selembar kertas berisi jutaan atau bahkan miliaran rupiah, mereka sudah mendapat izin untuk melakukan genosida. Mereka sudah tidak berbeda dengan Hitler dan Musolini pada waktu itu, yang dengan kejamnya membunuh semua yang mereka benci, hanya untuk kepentingan mereka sendiri.
Dengan mata mereka yang langsung hijau ketika melihat cek senilai miliyaran rupiah, aku dan teman-temanku menjadi korban. Korban kesewenang-wenangan mereka. Apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan nyawaku dan hidup teman-temanku? Cepat atau lambat, mereka akan sampai di tempat ini dan menemukan persembunyianku dan teman-temanku. Bukan hal yang luar biasa apabila mereka langsung mengambil peralatan membunuh mereka dan dengan cepat memusnahkanku. Sekali lagi, apa yang harus aku lakukan?
“Ayah, aku sudah bisa menanam satu pohon kecil ini, yah…” seru seorang anak perempuan yang belum genap berusia 10 tahun kepada ayahnya.
“Bagus, nak. Ayo, sekarang bantu ayah untuk menanam yang lain.” ajak ayahnya.
Hanya kepada orang-orang seperti ayah dan anak perempuannya itu aku berharap. Berharap untuk terus hidup. Hidup penuh kedamaian. Karna hanya merekalah yang peduli denganku. Walaupun hanya satu atau dua orang, aku tidak akan pernah berhenti berharap.
Andai aku bisa berbicara…
(silahkan pembaca berefleksi sendiri ya,,,)
Hari ini, aku kembali mendengar nasib teman-temanku yang di kota. Apa yang menjadi ketakutanku dan teman-temanku akhirnya terjadi pada teman-temanku yang berada di kota, mereka mati. Walaupun sudah hampir setiap hari aku mendengar berita ini, namun rasanya hati ini sedih setiap kali aku mendengar dan membayangkannya. Kaumku sudah sedikit di dunia ini, tetapi mengapa masih saja orang-orang tidak tahu balas budi itu memburuku kami. Ketakutan, kegelisahan dan kecemasan akan kematian terus menghantuiku dan teman-temanku yang tersisa akhir-akhir ini, ketika hampir semua orang tidak lagi peduli pada kami.
Aku ingin memberontak. Aku ingin menggerakan teman-temanku untuk melawan orang-orang berjas itu. Tapi aku sadar, pemberontakan yang akan aku lakukan bukan hanya merugikan para pembunuh kaum kami, tetapi juga akan merugikan orang-orang yang tidak bersalah, yang bahkan peduli kepada kami. Lagipula, para pembunuh itu sudah mempunyai akses yang mudah untuk melancarkan pembunuhan massal kepada kami. Ya, hanya dengan selembar kertas berisi jutaan atau bahkan miliaran rupiah, mereka sudah mendapat izin untuk melakukan genosida. Mereka sudah tidak berbeda dengan Hitler dan Musolini pada waktu itu, yang dengan kejamnya membunuh semua yang mereka benci, hanya untuk kepentingan mereka sendiri.
Dengan mata mereka yang langsung hijau ketika melihat cek senilai miliyaran rupiah, aku dan teman-temanku menjadi korban. Korban kesewenang-wenangan mereka. Apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan nyawaku dan hidup teman-temanku? Cepat atau lambat, mereka akan sampai di tempat ini dan menemukan persembunyianku dan teman-temanku. Bukan hal yang luar biasa apabila mereka langsung mengambil peralatan membunuh mereka dan dengan cepat memusnahkanku. Sekali lagi, apa yang harus aku lakukan?
“Ayah, aku sudah bisa menanam satu pohon kecil ini, yah…” seru seorang anak perempuan yang belum genap berusia 10 tahun kepada ayahnya.
“Bagus, nak. Ayo, sekarang bantu ayah untuk menanam yang lain.” ajak ayahnya.
Hanya kepada orang-orang seperti ayah dan anak perempuannya itu aku berharap. Berharap untuk terus hidup. Hidup penuh kedamaian. Karna hanya merekalah yang peduli denganku. Walaupun hanya satu atau dua orang, aku tidak akan pernah berhenti berharap.
Andai aku bisa berbicara…
(silahkan pembaca berefleksi sendiri ya,,,)
Sabtu, 10 Maret 2012
Bahagianya Bersikap Terbuka
Apapun itu status hubungannya, manusia dituntut untuk terbuka. Memang tidak mudah untuk membuka topeng-topeng yang kita punyai, meruntuhkan tembok-tembok pembelaan diri yang sudah kita bangun seumur hidup kita. Tetapi hal itu bukanlah tidak mungkin. Keinginan kita untuk menjadi diri sendiri dalam proses menjadi manusia yang dewasa terus bergejolak di dalam hati kita. Saya percaya itu.
Di dalam hati kecil kita, sering kali ingin menjadi diri sendiri, namun hal itu juga kerap dihadapkan pada realita diri yang masih belum sempurna. Masih mempunyai ketergantungan tinggi pada gengsi atau yang lebih dikenal "jaim", jaga image.
Dalam refleksi pribadi saya, awalnya memang susah untuk membuka diri kita kepada orang lain, membuka apapun, terutama kebusukan-kebusukan kita. Tapi dengan terbuka, saya dapat menjadi diri saya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. Satu pengalaman pribadi. Saya sangat terbuka dengan pacar saya, apapun itu, dari hal sederhana apapun. Memang, sikap saya yang terbuka, membuat "Nanda" cemburulah, kagetlah, atau reaksi-reaksi lainnya. Saya memang siap dengan segala resiko apapun akibat sikap terbuka saya. Tetapi setelah kaget, pacar saya hanya mengucapkan "TERIMA KASIH" dan tersenyum dengan senyum yang paling manis yang pernah saya temui. Perasaan saya saat itu sangatlah bahagia. Selain saya dapat menjadi diri saya sendiri apa adanya, saya juga merasa bahagia karena tanggapan yang positif dari orang yang saya sayangi.
Sikap terbuka memang bukanlah hal mudah. Namun dengan terbuka, kita tidak akan menyesal dan terus dikejar-kejar oleh kebohongan-kebohongan diri kita.
Indonesia akan menjadi negara maju jika orang-orang Indonesia terbuka dirinya bagi orang lain. Tidak ada lagi kata munafik. Mungkin, tidak ada lagi kata penderitaan.
Mari kita menyadari diri kita, yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik tetapi lebih menjadi orang munafik.
Berikanlah kepada siapapun, diri asli kita. INILAH DIRIKU YANG SESUNGGUHNYA...
Di dalam hati kecil kita, sering kali ingin menjadi diri sendiri, namun hal itu juga kerap dihadapkan pada realita diri yang masih belum sempurna. Masih mempunyai ketergantungan tinggi pada gengsi atau yang lebih dikenal "jaim", jaga image.
Dalam refleksi pribadi saya, awalnya memang susah untuk membuka diri kita kepada orang lain, membuka apapun, terutama kebusukan-kebusukan kita. Tapi dengan terbuka, saya dapat menjadi diri saya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. Satu pengalaman pribadi. Saya sangat terbuka dengan pacar saya, apapun itu, dari hal sederhana apapun. Memang, sikap saya yang terbuka, membuat "Nanda" cemburulah, kagetlah, atau reaksi-reaksi lainnya. Saya memang siap dengan segala resiko apapun akibat sikap terbuka saya. Tetapi setelah kaget, pacar saya hanya mengucapkan "TERIMA KASIH" dan tersenyum dengan senyum yang paling manis yang pernah saya temui. Perasaan saya saat itu sangatlah bahagia. Selain saya dapat menjadi diri saya sendiri apa adanya, saya juga merasa bahagia karena tanggapan yang positif dari orang yang saya sayangi.
Sikap terbuka memang bukanlah hal mudah. Namun dengan terbuka, kita tidak akan menyesal dan terus dikejar-kejar oleh kebohongan-kebohongan diri kita.
Indonesia akan menjadi negara maju jika orang-orang Indonesia terbuka dirinya bagi orang lain. Tidak ada lagi kata munafik. Mungkin, tidak ada lagi kata penderitaan.
Mari kita menyadari diri kita, yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik tetapi lebih menjadi orang munafik.
Berikanlah kepada siapapun, diri asli kita. INILAH DIRIKU YANG SESUNGGUHNYA...
Senin, 26 Desember 2011
Orangtuaku, Pengatur Hidupku
sebuah pengalaman seorang teman
Orangtuaku selalu mengekang aku. Setiap menit hidupku selalu diatur. Dengan siapa aku bergaul, harus dengan ijin dan sepengetahuan orangtuaku. Setiap pulang sekolah aku harus langsung pulang. Tidak ada ijin untuk main keluar rumah selain untuk kerja kelompok. Hidupku seolah-olah digenggam oleh tangan orangtuaku. Aku sudah mencoba berbicara dengan orangtuaku, tetapi omonganku hanya dianggap sebagai angin lalu dan tidak diperhatikan sama sekali. Apakah hidupku akan seperti ini terus???
Bagaimana hal ini bisa terjadi di zaman yang serba modern ini? Apakah masih ada zaman orangtua sebagai raja atas hidup anaknya di zaman dinamis ini?
Mari kita berefleksi, baik sebagai anak maupun sebagai orangtua.
Anak. Orangtuaku perhatian dan baik sama aku. Aku harus bangga punya orangtua seperti orangtuaku. Lagian, orangtuaku berbuat gitu juga demi kebaikan aku. Aku sering keterlaluan kalau bertindak dan aku berterima kasih sama orangtuaku yang selalu mengingatkan aku. Tapi aku jangan terus-menerus membiarkan hidupku diatur oleh orangtuaku. Aku sudah besar dan ini hidupku dan aku yang menjalani semua hidupku. Aku akan berbicara dengan orangtuaku, walaupun aku tidak didengar, aku akan terus mencoba berbicara dengan orangtuaku, sampai orangtuaku paham dan mengerti kalau aku juga butuh sedikit kebebasan. Orangtuaku boleh menegur aku ketika aku tidak pada tempatnya dan terlalu berlebihan. Tapi aku senang, punya orangtua. Aku cinta sama ayahku. Aku cinta sama ibuku.
Orangtua. Kami selalu ingin yang terbaik untuk anak kami. Kami tidak ingin anak kami mempunyai masa depan suram atau jelek. Kami ingin selalu berusaha agar masa depan anak kami baik dan sukses. Kami hanya ingin itu, tetapi mengapa anak kami selalu protes bahwa kami selalu mengekang dia. Apa mungkin kami terlalu tegas dalam mengatur hidup anak kami? Tetapi anak kami tidak pernah berbicara kepada kami dalam permasalahan ini. Oke. Mungkin kami terlalu mengekang. Kami akan mencoba berbicara dengan anak kami. Berbicara mengenai apapun yang selama ini tidak dibicarakan. Kami ingin mencoba membuka semua permasalahan dan mencoba untuk menyelesaikannya dengan anak kami. Kami sebagai orangtua sayang dengan anak kami dan ingin anak kami mempunyai masa depan yang sukses dan baik.
Semua permasalahan dapat selesai jika ada komunikasi antar yang bermasalah. Ketakutan dan kekhawatiran memang menjadi penghalang utama dalam memulai komunikasi antara orangtua dan anak. Orangtua takut dipandang jelek oleh anaknya. Dan anak khawatir apa yang dibicarakannya tidak didengarkan.
Marilah kita buka pikiran kita masing-masing untuk mendengarkan apa yang tidak dibicarakan. Memahami apa yang tidak terungkap. Dan merasakan apa yang tidak terasa.
Orangtuaku selalu mengekang aku. Setiap menit hidupku selalu diatur. Dengan siapa aku bergaul, harus dengan ijin dan sepengetahuan orangtuaku. Setiap pulang sekolah aku harus langsung pulang. Tidak ada ijin untuk main keluar rumah selain untuk kerja kelompok. Hidupku seolah-olah digenggam oleh tangan orangtuaku. Aku sudah mencoba berbicara dengan orangtuaku, tetapi omonganku hanya dianggap sebagai angin lalu dan tidak diperhatikan sama sekali. Apakah hidupku akan seperti ini terus???
Bagaimana hal ini bisa terjadi di zaman yang serba modern ini? Apakah masih ada zaman orangtua sebagai raja atas hidup anaknya di zaman dinamis ini?
Mari kita berefleksi, baik sebagai anak maupun sebagai orangtua.
Anak. Orangtuaku perhatian dan baik sama aku. Aku harus bangga punya orangtua seperti orangtuaku. Lagian, orangtuaku berbuat gitu juga demi kebaikan aku. Aku sering keterlaluan kalau bertindak dan aku berterima kasih sama orangtuaku yang selalu mengingatkan aku. Tapi aku jangan terus-menerus membiarkan hidupku diatur oleh orangtuaku. Aku sudah besar dan ini hidupku dan aku yang menjalani semua hidupku. Aku akan berbicara dengan orangtuaku, walaupun aku tidak didengar, aku akan terus mencoba berbicara dengan orangtuaku, sampai orangtuaku paham dan mengerti kalau aku juga butuh sedikit kebebasan. Orangtuaku boleh menegur aku ketika aku tidak pada tempatnya dan terlalu berlebihan. Tapi aku senang, punya orangtua. Aku cinta sama ayahku. Aku cinta sama ibuku.
Orangtua. Kami selalu ingin yang terbaik untuk anak kami. Kami tidak ingin anak kami mempunyai masa depan suram atau jelek. Kami ingin selalu berusaha agar masa depan anak kami baik dan sukses. Kami hanya ingin itu, tetapi mengapa anak kami selalu protes bahwa kami selalu mengekang dia. Apa mungkin kami terlalu tegas dalam mengatur hidup anak kami? Tetapi anak kami tidak pernah berbicara kepada kami dalam permasalahan ini. Oke. Mungkin kami terlalu mengekang. Kami akan mencoba berbicara dengan anak kami. Berbicara mengenai apapun yang selama ini tidak dibicarakan. Kami ingin mencoba membuka semua permasalahan dan mencoba untuk menyelesaikannya dengan anak kami. Kami sebagai orangtua sayang dengan anak kami dan ingin anak kami mempunyai masa depan yang sukses dan baik.
Semua permasalahan dapat selesai jika ada komunikasi antar yang bermasalah. Ketakutan dan kekhawatiran memang menjadi penghalang utama dalam memulai komunikasi antara orangtua dan anak. Orangtua takut dipandang jelek oleh anaknya. Dan anak khawatir apa yang dibicarakannya tidak didengarkan.
Marilah kita buka pikiran kita masing-masing untuk mendengarkan apa yang tidak dibicarakan. Memahami apa yang tidak terungkap. Dan merasakan apa yang tidak terasa.
Minggu, 25 Desember 2011
Handphone
Kayanya susah banget ya buat lepas dari satu benda itu. Kalau dalam pelajaran Ekonomi, HP adalah dulunya kebutuhan sekunder, untuk zaman sekarang ini, HP dilihat sudah menjadi kebutuhan primer untuk sebagian besar orang. Tapi, mengapa sekarang HP hampir menjadi sumber konflik bagi beberapa orang. Ada orang yang bertengkar hanya gara-gara HP, bahkan ada yang sampai bunuh-bunuhan. Memang, siapa orang yang tidak butuh HP? Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan komunikasi, dan HP menjamin adanya itu di antara manusia, dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan.
Mari siapapun berefleksi. Sebenarnya apa kegunaan HP? Menurut penulis, HP berguna sebagai alat komunikasi. Maka dari itu, gunakanlah HP untuk berkomunikasi. Jangan sampai HP digunakan untuk bermain(game-game-an) sampai melupakan apa yang harus dikerjakan. Dalam berkomunikasipun ada batasnya. Jangan sampai HP digunakan untuk bersaing dalam hal gengsi yang tidak akan ada matinya. Mari kita gunakan alat-alat komunikasi, terutama HP dengan semestinya.
Mari siapapun berefleksi. Sebenarnya apa kegunaan HP? Menurut penulis, HP berguna sebagai alat komunikasi. Maka dari itu, gunakanlah HP untuk berkomunikasi. Jangan sampai HP digunakan untuk bermain(game-game-an) sampai melupakan apa yang harus dikerjakan. Dalam berkomunikasipun ada batasnya. Jangan sampai HP digunakan untuk bersaing dalam hal gengsi yang tidak akan ada matinya. Mari kita gunakan alat-alat komunikasi, terutama HP dengan semestinya.
Langganan:
Komentar (Atom)