Hidup ini ternyata tidak semudah dahulu. Bahkan mungkin sekarang, aku tidak lagi dapat disebut masih hidup. Kehidupanku berubah 180 derajat sejak kedatangan para pemburu kaumku. Kehidupanku yang dahulu penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan direnggut oleh ketamakan orang-orang di kota. Terus-menerus aku hidup dalam ketakutan. Ketakutan akan kebinasaan yang telah dialami teman-temanku di kota.
Hari ini, aku kembali mendengar nasib teman-temanku yang di kota. Apa yang menjadi ketakutanku dan teman-temanku akhirnya terjadi pada teman-temanku yang berada di kota, mereka mati. Walaupun sudah hampir setiap hari aku mendengar berita ini, namun rasanya hati ini sedih setiap kali aku mendengar dan membayangkannya. Kaumku sudah sedikit di dunia ini, tetapi mengapa masih saja orang-orang tidak tahu balas budi itu memburuku kami. Ketakutan, kegelisahan dan kecemasan akan kematian terus menghantuiku dan teman-temanku yang tersisa akhir-akhir ini, ketika hampir semua orang tidak lagi peduli pada kami.
Aku ingin memberontak. Aku ingin menggerakan teman-temanku untuk melawan orang-orang berjas itu. Tapi aku sadar, pemberontakan yang akan aku lakukan bukan hanya merugikan para pembunuh kaum kami, tetapi juga akan merugikan orang-orang yang tidak bersalah, yang bahkan peduli kepada kami. Lagipula, para pembunuh itu sudah mempunyai akses yang mudah untuk melancarkan pembunuhan massal kepada kami. Ya, hanya dengan selembar kertas berisi jutaan atau bahkan miliaran rupiah, mereka sudah mendapat izin untuk melakukan genosida. Mereka sudah tidak berbeda dengan Hitler dan Musolini pada waktu itu, yang dengan kejamnya membunuh semua yang mereka benci, hanya untuk kepentingan mereka sendiri.
Dengan mata mereka yang langsung hijau ketika melihat cek senilai miliyaran rupiah, aku dan teman-temanku menjadi korban. Korban kesewenang-wenangan mereka. Apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan nyawaku dan hidup teman-temanku? Cepat atau lambat, mereka akan sampai di tempat ini dan menemukan persembunyianku dan teman-temanku. Bukan hal yang luar biasa apabila mereka langsung mengambil peralatan membunuh mereka dan dengan cepat memusnahkanku. Sekali lagi, apa yang harus aku lakukan?
“Ayah, aku sudah bisa menanam satu pohon kecil ini, yah…” seru seorang anak perempuan yang belum genap berusia 10 tahun kepada ayahnya.
“Bagus, nak. Ayo, sekarang bantu ayah untuk menanam yang lain.” ajak ayahnya.
Hanya kepada orang-orang seperti ayah dan anak perempuannya itu aku berharap. Berharap untuk terus hidup. Hidup penuh kedamaian. Karna hanya merekalah yang peduli denganku. Walaupun hanya satu atau dua orang, aku tidak akan pernah berhenti berharap.
Andai aku bisa berbicara…
(silahkan pembaca berefleksi sendiri ya,,,)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar